Saturday, 27 June 2015

Sepeda Baru

Posted by younastory at 00:05
CERPEN



Aku, Edo, Evan, dan Nino setiap sore selalu bermain di pinggir sawah. Kami paling senang bermain perang-perangan dan membuat senjata dari bambu. Selain itu, kami juga suka menangkap belut yang ada di sawah. Kami bersepeda menuju ke sawah yang sebenarnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Aku selalu membonceng Evan setiap kali kami pergi ke sawah. Sebab aku belum memiliki sepeda sendiri.
Dulu pernah aku meminta sepeda kepada ayahku. Tapi ayah selalu menjawab bahwa beliau belum punya uang untuk itu. Ya... aku memang harus bersabar. Kebutuhan kami akhir-akhir ini memang banyak. Terlebih adikku, Leo, yang akan masuk kelas satu sekolah dasar sebentar lagi.
”Kau tak ajak adikmu main bersama nanti sore?” tanya Edo ketika kami sedang duduk-duduk di kantin sambil menikmati camilan yang kami beli.
”Aku sebenarnya ingin mengajak Leo. Tapi masa dia harus jalan kaki sendiri sementara kita naik sepeda. Sepeda yang ada boncengannya kan cuma milikmu, Van,” jelasku pada Evan.
Evan ketawa. “Jelas cuma punyaku yang ada boncengannya. Sebab hanya aku yang memakai sepeda ontel.”
“Tetap saja Leo tak dapat kuajak,”
”Tapi kan dia sangat ingin ikut bersama kita. Kasihan kan, Mon,” kata Edo padaku.
”Baiklah nanti akan ku ajak dia. Aku akan jalan kaki menuju ke sawah bersamanya. Kalian nanti duluan saja,” janjiku pada mereka.
Sebenarnya Leo memang sudah beberapa kali ingin ikut bermain bersama kami. Hanya saja aku belum punya sepeda untuk mengajaknya. Alasan yang tak masuk akal sih. Maksudku sih supaya Leo tak capek. Dia kan bisa aku bonceng. Tak harus berjalan kaki. Begitu!
Ketika selesai mandi, aku segera menghampiri Leo yang sedang asyik menonton acara kartun di televisi. Aku duduk di sampingnya.
”Mau ikut kakak ke sawah sekarang?” tanyaku padanya.
Leo berpaling ke arahku. ”Boleh?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Maka kami pun segera menuju ke sawah. Ketika kami tiba di sawah, Edo, Evan, dan Nino sudah asyik bermain di sana. Aku dan Leo segera menuju ke arah mereka.
”Hei!” panggil Evan sambil melambaikan tangannya ke arah kami.
Kami segera berlari ke arah mereka.
”Nah gitu dong. Sebagai kakak yang baik, mengajak adiknya untuk bermain juga,” goda Evan sambil melemparkan sebuah bambu kecil ke arahku.
Aku berhasil menangkisnya. Aku dan Leo langsung membuat senjata kami dari bambu. Dan tak lama kemudian. Kami pun sudah main perang-perangan. Hingga waktu sudah menujukkan pukul lima sore. Waktunya kami untuk segera pulang ke rumah.
***
Hari ini adalah hari Sabtu. Sebenarnya hari spesial bagiku. Tapi kok ya belum ada yang ngasih ucapan selamat padaku ya? Hari ini adalah hari ulang tahunku.  Ya.. aku tak terlalu berharap sih.
Ketika aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah saat sekolah sudah usai, Edo, Evan, dan Nino tak nampak. Padahal tadi kami bersama-sama. Eh, tiba-tiba saja mereka menghilang. Aku pun pulang sendiri tanpa mereka.
Ketika aku sudah tiba di rumah. Hal aneh lagi-lagi terjadi. Rumah yang biasanya ada ibu dan adik yang sudah lebih dulu pulang sekolah kini tampak sepi dan begitu lengang. Aku pun memutuskan untuk makan siang.
”Kemana sih orang-orang?” tanyaku pada diri sendiri.
Setelah makan siang aku memutuskan untuk menonton acara televisi. Sebenarnya tak ada yang ingin kutonton. Tapi daripada bosan nggak ngapa-ngapain. Selama kurang lebih satu jam aku hanya menonton televisi. Ibu dan Leo belum juga pulang. Tak terasa aku pun tertidur di sofa ruang keluarga.
”Kak, mandi sudah sore. Kak Simon!”
Samar-samar aku mendengar suara Leo. Aku mencoba untuk membuka kedua mataku yang semula tertutup. Ternyata memang benar si Leo. Dia mengguncang-guncang tubuhku. Aku pun menggeliat dan bangun terduduk.
“Darimana tadi kau sama Ibu?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mataku.
“Pergi sebentar ke toko,” jawabnya, “ayo mandi, Kak. Ibu ingin bicara dengan kakak setelah kakak mandi.”
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok Ibuku. ”Mana Ibu?”
”Kakak mandilah dulu,” perintahnya.
Aku pun segera mandi. Setelah badanku segar kembali, aku segera mencari keberadaan Ibuku. Di dapur tak ada, di ruang tamu juga tak ada. Kemana lagi orang-orang?
Kulangkahkan kakiku menuju ke samping rumah di mana garasiku berada. Dan...
”SELAMAT ULANG TAHUN!!!!!!”
Terdengar suara yang begitu riuhnya. Aku terkaget. Ternyata di garasi sudah banyak sekali orang. Ada Ibu, Ayah, Leo, Edo, Evan, Nino, dan beberapa temanku yang lain. Di tengah-tengah mereka ada sebuah sepeda BMX yang masih baru. Wow!
“Selamat ulang tahun, Simon,” ucap ibu sambil memelukku.
“Terima kasih semuanya. Kupikir kalian lupa ulang tahunku,” ucapku sambil tersenyum senang.
“Ini hadiah dari ayah dan ibu. Kau senang?” kata ayah sambil menunjukkan sepeda BMX itu padaku.
Aku berjalan menuju ke sepeda tersebut. Aku pun mencoba menaikinya. ”Sungguh menyenangkan. Terima kasih banyak ayah... ibu.”
”Ini hadiah dariku,” kata Leo sambil memberiku sebuah helm sepeda.
”Keren!” ujarku.
Semua tertawa melihat tingkahku yang mendadak kembali menjadi anak berumur lima tahun lagi. Tapi aku tak peduli itu. Sebab ternyata hari ini adalah hari spesialku. Sungguh menyenangkan sekali. Semua bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun padaku. Ada sebuah kue tart berwarna coklat dan lilin yang berjumlah sebelas buah. Aku pun segera meniupnya setelah memanjatkan doa pada Tuhan.
”Kami juga membawakan kado untukmu. Sudah kami taruh di atas meja belajarmu,” kata Nino.
”Terima kasih, teman-teman. Tapi mengapa kalian tadi tiba-tiba menghilang?” ucapku.
”Kami beli kado untukmu, Simon. Maaf ya sudah membuatmu bingung,” jelas Edo sambil menepuk bahuku pelan.
”Iya, aku tidak marah kok,” kataku.
Terima kasih orang tuaku dan adikku. Terima kasih teman-temanku. Terima kasih karena kini aku telah memiliki sepeda. Sepeda BMX seperti impianku. Terima kasih semua! Aku sangat senang dan bahagia.

Penulis: Yuna Chan

0 comments:

Post a Comment

 

yOuna story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea